http://www.lacakindonesia.com


Laksamana TNI Agus Suhartono

Panglima TNI

Peringatan Nuzulul Qur’an 1433 H di Mabes TNI

Lacakindonesia.com, Jakarta, 13 Agustus 2012

Liputan: Siska Kartika

Inspektur Jenderal (Irjen) TNI Letjen TNI Geerhan Lantara, para pejabat teras TNI, segenap Prajurit dan PNS di lingkungan Mabes TNI dan Angkatan serta Ibu-ibu IKKT Pragati Wira Anggini, menghadiri peringatan Nuzulul Qur’an 1433 H/2012 M dengan penceramah Ustadz Fadzian Gamaratan, bertempat di GOR A.Yani Mabes TNI Cilangkap Jakarta, Senin (13/8/2012).  Kegiatan ini mengangkat tema “Dengan Hikmah Nuzulul Qur’an 1433 H/2012 M Kita Tingkatkan Profesionalitas TNI, Disiplin dan Pengendalian Diri Guna Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa”, diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 185 - 186 oleh Kopda H. Muhamad Fitroh.

Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E., dalam amanatnya yang dibacakan Irjen TNI mengatakan, kasih dan sayang Allah SWT kepada manusia sungguh tak terbatas, tak cukup dengan menciptakan, menyempurnakan ciptaan-Nya, memberi dan menjamin kecukupan rezeki bagi mahkluk-Nya, namun Allah SWT juga memberikan petunjuk atau hidayah tentang tata cara yang benar dan jalan hidup yang pasti bagi manusia dalam menjalani kehidupannya di muka bumi. Sejatinya, manusia diciptakan dan dilengkapi dengan jiwa Qur’ani, yang  bersedia menerima dan terbuka terhadap pembaharuan atau perubahan, mampu bersikap demokratis dan bersedia menerima bentuk keragaman realitas sosial, senantiasa difokuskan pada masa kini dan masa depan, memiliki perencanaan hidup, menjunjung tinggi kemampuan manusia, dapat memperhitungkan waktu bahwa proses kehidupan ini bukan ditentukan oleh nasib.

Kesemuanya itu, sesuai dengan pandangan hidup masyarakat modern saat ini. Hal ini berarti Al-Qur’an adalah jiwa dari masyarakat modern.  Oleh karena itu, sebagai umat Islam dan juga sebagai abdi negara, harus membuka diri untuk: Pertama, bergerak merespon permasalahan-permasalahan yang kontemporer dan tidak terjebak pada pemikiran-pemikiran simplistis yang bersifat apologi. Kedua, mencoba melihat kembali persoalan-persoalan yang dihadapi umat dan bersikap apresiatif terhadap kamajuan dalam membangun semangat untuk mengembangkan rasionalitas, kerja keras, sains dan ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya yang merupakan kata kunci kemajuan masyarakat selama ini. Ketiga, sebagai umat Islam yang Qur’ani harus bersikap akomodatif terhadap perkembangan pola hidup dan pola pikir, termasuk pola Barat sekalipun, tentu saja pemikiran positif yang tidak bertentangan dengan prinsip dasar Islam. Pada dasarnya semangat inilah yang pernah mengantarkan kemajuan dunia Islam pada abad pertengahan, ketika masyarakat Barat masih terbelakang.  

Sementra itu, Ustadz Fadzian dalam uraian ceramahnya antara lain mengisahkan, historis turunnya Al-Qur’an di pertengahan bulan suci Ramadhan, dimana Rasulullah SAW berusaha untuk membersihkan hatinya, menyendiri dan menyepi di Gua Hira. Di sanalah Allah SWT membangun sebuah sistim untuk meneropong alam raya, dan melihat Gua Hira ada seorang hamba yang bernama Muhammad sedang menyendiri membersihkan jiwa dari dalam. Allah SWT mengutus Malaikat Jibril AS untuk mendatangi Muhammad dan melihat Gua Hira sebagai pesantren, madrasah, dan menjadi lembaga pendidikan sementara.  Rasulullah SAW saat itu menjadi murid yang baik di dalam tempat itu, dan Jibril mengajarkan Al-Qur’an yang dipesan Allah SWT agar diajarkan dengan baik kepada hamba yang bernama Muhammad.

Demikian siaran pers Kadispenum Puspen TNI, Kolonel Cpl Ir. Minulyo Suprapto, M.Sc., M.Si., M.A yang diterima Lacakindonesia.com Jakarta.


< HALAMAN MUKA >


 
 

Copyright @ 2012,  LACAKINDONESIA.COM, All rights reserved