http://www.lacakindonesia.com


Laksamana TNI Agus Suhartono

Panglima TNI


Laksamana Muda TNI Iskandar Sitompul, S.E.

Kapuspen TNI


Kol Cpl. Ir. Minulyo Suprapto, M.Sc, M.Si, M.A.

Kadispenum Puspen TNI

Shalat Idul Fitri 1433 H di Mabes TNI

Lacakindonesia.com, Jakarta, 19 Agustus 2012

Liputan: Siska Kartika

Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E., Kasal Laksamana TNI Soeparno, Kasau Marsekal TNI Imam Sufaat, Kepala Basarnas Marsdya TNI Daryatmo, S.IP., Irjen TNI Letjen TNI Geerhan Lantara, Wakasal Laksdya TNI Marsetio, M.M. beserta Ibu, para pejabat TNI, anggota TNI dan PNS serta masyarakat sekitar Mabes TNI melaksanaan shalat Idul Fitri 1433 H di Lapangan GOR A. Yani Mabes TNI Cilangkap Jakarta, Minggu (19/8/2012).

Bertindak selaku Imam H. Muhammad Shodri, S.Q., dan Khatib Dr. Anas Maulana Nuryadi, M.A. (Dosen Pasca Sarjana Ekonomi Syariah Universitas Trisakti). Kegiatan shalat Idul Fitri 1433 H di Mabes TNI mengangkat tema "Dengan Hikmah Idul Fitri 1433 H Kita Tingkatkan Profesionalisme TNI Guna Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa”.

Dalam khotbahnya, Dr. Anas Maulana Nuryadi, M.A., menguraikan bahwa kalimat takbir yang melambangkan keagungan dan kebesaran Allah SWT, itulah yang mempersatukan bangsa Indonesia, bahkan umat beragama di seluruh permukaan bumi, karena kandungannya terpencar aneka kesatuan, seperti kesatuan alam semesta, dunia akhirat, ilmu, agama-agama samawi, umat, bangsa, dan kemanusiaan. Kalimat-kalimat itulah yang dikumandangkan oleh para pahlawan bangsa Indonesia pada 10 November 1945, ketika menghadapi agresi penjajah yang akan merebut kemerdekaan bangsa Indonesia.

Dengan selesainya puasa Ramadhan, diharapkan umat muslim berhasil meraih taqwa, taqwa adalah istilah yang menyatu di dalamnya terdapat aneka macam kebaikan, puasa Ramadhan adalah buah dari iman yang juga merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan. Iman adalah kesatuan dari ketulusan hati yang menerima kebenaran, disertai dengan pernyataan secara lisan, serta dibuktikan dengan kesungguhan anggota badan dengan menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya.

Idul fitri seharusnya dapat mengantarkan umat muslim pada kesatuan dan persatuan, karena Idul Fitri yang diambil dari kata fitrah, yang berarti agama yang benar dan suci, maka perlu diingat sabda Nabi Muhammad SAW yang menyatakan Addinu mu’malah, agama adalah interaksi harmonis. Semakin baik interaksi seseorang, semakin baik pula menyikapi agamanya. Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, dapat dikatakan bahwa tidak mungkin satu masyarakat dapat maju dan berkembang tanpa adanya keharmonisan diantara mereka, jalinan yang dapat menjadikan mereka bekerjasama, sehingga yang ringan sama dijinjing dan yang berat sama dipikul.

Ketika seseorang beridul fitri, dalam arti kembali ke asal kejadiannya, maka hal ini menimbulkan kesadaran tentang jati diri sebagai manusia. Jati diri sebagai makhluk dwi dimensi yang merupakan kesatuan atau perpaduan dari ruh dan jasad, seperti halnya air yang terpadu dari oksigen dan hydrogen dalam kadar tertentu. Perpaduan ruh dan jasad dalam diri manusia mengantarkannya menjadi manusia yang utuh, sehingga tidak terjadi pemisahan antara aqidah/akhlak dan syariah/muamalah, tidak juga antara perasaan dan perilaku, perbuatan dengan moral, dunia dan akhirat, karena masing-masing merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dan saling melengkapi.

Akhirnya, khotib mengajak untuk menjadikan hari raya Idul Fitri ini, sebagai momentum untuk memperkokoh ikatan kesatuan, menyatu padukan hubungan kasih sayang antara semua, sebangsa dan setanah air. Diharapkan dengan hati terbuka dan dada yang lapang, dengan muka yang jernih serta dengan tangan yang terulurkan, saling maaf memaafkan sambil mengibarkan panji-panji persatuan dan kesatuan bendera kedamaian dan assalam.

Usai shalat Idul Fitri, Panglima TNI beserta Ibu Tetty Agus Suhartono melaksanakan halalbihalal dengan prajurit dan PNS TNI, bertempat di kediaman Panglima TNI, Jl. Diponegoro Jakarta.

< HALAMAN MUKA >


 
 
 
 
 

Copyright @ 2012,  LACAKINDONESIA.COM, All rights reserved