http://www.lacakindonesia.com

 

Gedung DPR/MPR RI Jakarta

 

Isu Meneg BUMN Pembunuhan Karakter Anggota Dewan

Lacakindonesia.com, Jakarta, 14 Nopember 2012

Liputan: Oktavip Iskandar Hamdi

Banyak kalangan menyesalkan isu yang dilontarkan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan. Pasalnya, isu tersebut dianggap sebagai pembunuhan karakter bagi Anggota Dewan yang disebut sebut inisial nama mereka. Sementara dugaan pemerasan yang dilakukan oleh oknum DPR RI dinilai masih tergolong kelas teri, kecil, dan sifatnya masih main-main, dan anggaran yang diperebutkan hanya miliaran rupiah.

Setelah mendapat sorotan publik dengan berbagai sikap politiknya yang terpuruk akhir-akhir ini, DPR RI justru sangat berhati-hati dengan apa yang disebut palak-memalak. Lantaran sebagai wakil rakyat mereka dianggap memeras BUMN dan menjadikan ATM nya politisi dan penguasa.

“Justru, potensi pemerasan yang besar itu ada di kekuasaan. Mereka bisa menempatkan direksi, dirut atau komisaris di BUMN, mengintervensi pejabat internal BUMN, dan bahkan menakut-nakuti pejabat internal untuk melakukan kongkalikong,” ujar mantan sekretaris kementerian BUMN Said Didu dalam diskusi soal pemerasan BUMN oleh DPR RI bersama anggota Komisi VI DPR RI FPKS Refrizal dan Eva Kusuma Sundari anggota Komisi III DPR RI FPDIP di Press Room DPR RI Jakarta, Rabu (14/11/2012).

Said Didu mengatakan, kalau kekuasaan itu terdiri dari banyak parpol, maka banyak pejabat, parpol yang bisa mengintervensi BUMN dengan berbagai cara. Selain menempatkan orang-orangnya sebagai direksi, dirut, atau komisaris, juga mencari peluang dalam pengadaan barang dan jasa melalui proyek-proyek BUMN. “Bayangkan uang yang berputar di Pertamina saja Rp 2 triliun/hari, sedangkan di PLN mencapai Rp 1,6 triliun/hari,” katanya.

Selain itu menurutnya, kalau ingin BUMN itu bersih dari intervensi kekuasaan dan politik, maka harus menempatkan orang yang baik, pintar, profesional, dan berani. “Jangan sampai menempatkan orang yang bermasalah, yang malah mudah dimainkan oleh politisi. Maka, makin banyak tekanan dari luar, itu menunjukkan pimpinan BUMN itu bagus, dan itu berarti dia berani melawan intervensi tersebut,” tandas Said Didu menegaskan.

Lebih jauh Said menjelaskan, mencari orang pintar dan berani itu mudah, namun tidak cukup diwawancara selama tiga jam, tapi butuh waktu berbulan-bulan, dan mengetahui jaringannya selama bekerja. “Kalau jaringannya orang baik-baik dipastikan dia baik, dan sebaliknya, maka dipastikan buruk. Jadi, sederhana saja,” jelasnya.

Terkait dengan adanya media yang tidak jelas terbitanya, yang banyak mencari kesalahan pejabat BUMN, juga banyak yang coba-coba ikut memeras BUMN, kata Said, media semacam itu sikat dan matikan saja langkahnya.

Begitu juga sama halnya dikatakan Refrizal Sikumbang Anggota Komisi VI DPR-RI FPKS. Menurutnya, dengan negara yang besar kekayaan dan penduduknya, maka seyogyanya dinikmati bersama dan tidak saja oleh satu kelompok tertentu seperti halnya memeras BUMN. “Indonesia negara kaya dan penduduknya sangat besar, maka semua kekayaan negara harus memenuhi rasa keadilan bersama. Jangan hanya dikuasai segelintir orang.” katanya.

Pada kesempatan yang sama Anggota Komisi III DPR-RI FPDI-P, Eva Kusuma Sundari juga mengakui jika DPR sekarang sangat hati-hati setelah akhir-akhir mendapat sorotan buruk dari masyarakat. Oleh karena itu kalau ada anggota DPR yang coba-coba memeras BUMN, itu sifatnya bisa main-main atau sebagai pancingan saja. Celakanya, kalau pejabat BUMN yang dipancing itu memberi peluang, maka terjadilah apa yang disebut intervensi atau pemerasan yang dimaksud. "Padahal, kalau ada yang mengajak bertemu, ditolak saja. Itu tak masalah, di mana permintaan tak selalu harus dipenuhi dan malah bisa harus dihindari,” ujarnya.

Yang terpenting jelas Eva, kalau semua anak bangsa berniat baik untuk memperbaiki bangsa ke depan, maka Meneg BUMN Dahlan Iskan dan DPR RI tidak perlu lagi ribut-ribut dan saling gebuk. Tapi, bersama-sama membuat blue print, program perencanaan BUMN yang komprehensif, transparan, dan akuntabel. “Kan tak baik kalau menuding orang, lalu direvisi, dan meminta maaf melalui sms. Mungkin niatnya baik, namun kalau sudah tersebar ke masyarakat, kan telanjur tercemar nama baik orang-orang itu,” jelasnya.


< HALAMAN MUKA >

 
 

Copyright @ 2012,  LACAKINDONESIA.COM, All rights reserved