http://www.lacakindonesia.com

 

Gedung DPR/MPR RI Jakarta

 

Capres 2014 Harus Clean dan Clear Secara Ideologi dan Korupsi

Lacakindonesia.com, Jakarta (18/11/2013) - Wakil Ketua MPR-RI Hajrianto Tohari mengatakan, seorang calon presiden harus memiliki dua syarat, yakni pertama harus clean and clear secara ideologi dan kedua, clean dan clear dalam korupsi.

“Pemilu presiden yang rencananya dilangsungkan 9 Juli 2014 mendatang, diharapkan mampu menghadirkan calon pemimpin negara yang berkualitas,” ujar Wakil Ketua MPR-RI, Hajrianto Tohari dalam Dialog Kenegaraan bertajuk “Menyoal Rekrutmen Ideal Kepemimpinan Nasional” di Gedung MPR-RI Jakarta, Senin (18/11/2013).

Hadir sebagai pembicara, Politikus PDI-P TB. Hasanuddin dan Tokoh HAM sekaligus Tokoh Hahdlatul Ulama (NU), Solahuddin Wahid.

Menurut Hajrianto Tohari, pemimpin 2014 nanti harus clean and clear dari korupsi. Bukan figur yang nyerempet- nyerempet kasus korupsi. Di mana jika pemimpin nasional tidak clean and clear, tidak akan mungkin dapat membangun pemerintahan yang bersih.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin mengatakan, sistem rekruitmen calon presiden ke depan harus menduplikasi pola rekruitmen di lingkungan TNI. Selain itu, konteks pemimpin ke depan harus ada rekruitmen yang baik dan dilakukan secara berjenjang dan bertingkat. “Saya pikir sistem rekruitmen TNI harus diterapkan," katanya.

TB. Hasanuddin menambahkan, modal penting yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah kredibilitas, jujur, visioner, cerdas, tegas, religius dan kompeten. Seseorang yang berani mencalonkan diri sebagai capres harus mampu menuntaskan berbagai persoalan.

“Diantaranya, intoleransi, penegakkan hukum, pemberantasan korupsi, konflik pertanahan, ketenagakerjaan atau TKI, keadilan di bidang ekonomi dan bidang sosial dan clean government dan good government,” jelasnya.

Begitupun sama halnya disampaikan Tokoh Hak Asasi Manusia (HAM) sekaligus Tokoh Nahdlatul Ulama, Solahuddin Wahid. Menurutnya, dia menyontohkan kriteria seorang pemimpin dari sudut budaya Jawa dan sudut Islam. Dari sudut budaya Jawa, ada delapan kriteria. Yaitu, seorang pemimpin harus seperti Bumi, artinya bisa memberi kepada sesama. Kedua, seperti eni yaitu sanggup membakar apa saja, seperti membakar korupsi. Ketiga, Banyu, artinya mengalir dalam arti harus rendah hati. Keempat, angin, artinya memihak hidup kepada semua orang. Kelima, Surya, artinya menjadi penerang dalam kehidupan dan pemberi energi bagi masyarakat. Keenam, Chandra, artinya memiliki kelembutan yang bersinar. Dan ketujuh, Kartika, artinya harus bisa menjadi panutan dan mampu menyelami keinginan masyarakat. Kedelapan, Langit, artinya keluasan hati, perasaan dan pikiran. Tidak boleh sempit pandangan dan emosional.

Sedangkan konsep seorang pemimpin dari sudut Islam, "Pemimpin harus Sidiq, Amanah dan Fathanah serta Tabligh,” kata adik mendiang Presiden Andurrahman Wahid ini. (Oktavip Iskandar Hamdi / Siska)


< HALAMAN MUKA >

Mayjen (Purn) TB Hasanuddin

Wakil Ketua Komisi I DPR-RI

 

Copyright @ 2013,  LACAKINDONESIA.COM, All rights reserved