http://www.lacakindonesia.com

 

Gedung DPR/MPR RI Jakarta

 

FCTC Matikan Produksi Tembakau Indonesia

Lacakindonesia.com, Jakarta, 26 Pebruari 2014

Liputan: Oktavip Iskandar Hamdi

Sekretaris Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa DPR-RI (FPKB DPR-RI) Muh. Hanif Dhakiri mengatakan, untuk membantu pemerintah, DPR dan seluruh stakeholders terkait, fraksi PKB memberikan masukan yang konstruktif dalam menyikapi perlu tidaknya peratifikasian Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Masalahnya, jika FCTC disetujui, bisa mematikan petani, produksi tembakau dan rokok di dalam negeri.

“Pemerintah dalam era globalisasi harus melihat kepentingan orang banyak dan berguna untuk halayak ramai atau tidak. Karena kalau kita meretifikasi FCTC dapat mematikan produksi tembakau, rokok di dalam negeri dan dapat dicakup oleh asing,” ujar Muh. Hanif Dhakiri saat membuka Diskusi Publik bertajuk “ FCTC Untuk Kepentingan Siapa” di Ruang Rapat FPKB Gedung Nusantara I DPR-RI Jakarta, Rabu (26/02/2014).

Menurut Muh. Hanif Dhakiri, di era globalisasi terlihat jelas ketidakseimbangan antara produksi tembakau, rokok Indonesia dengan negara asing. Ini terlihat bila pekerja tembakau kita ingin bekerja di luar negeri dianggap tidak mempunyai skill di bidangnya. Sementara kalau tenaga asing bekerja di negara kita, mereka mendapat prioritas.

“Ini yang seharusnya mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah,” katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI, Abdul Kadir Karding menjelaskan, FPKB mempunyai kontens khusus tentang FCTC karena menyangkut kehidupan rakyat yang hidupnya tergantung dengan tembakau dan rokok. Sehingga tradisi tembakau perlu kita jaga, karena Indonesia adalah merupakan salah satu negara terbesar penghasil tembakau di dunia.

“Industri tembakau Indonesia, satu-satunya mulai dari komponen, pekerjanya maupun tembakaunya tidak dari hasil import,” jelasnya.

Abdul Kadir Karding menambahkan, sayangnya indutri tembakau sekarang ini mendapatkan desakan dari luar negeri yang mendesak rokok putih masuk ke Indonesia. Sementara dari hasil cukai rokok terhitung dari tahun 2012-2013 menghasilkan lebih kurang 118 triliun sebagai devisa negara.

“Oleh karena itu, FPKB menyatakan menentang FCTC yang membunuh tembakau dan rokok di Indonesia,” katanya.

Lebih jauh Abdul Kadir Karding mengatakan, apalagi di dalam FCTC juga mengatur nilai kandungan nikotin dan TAR dalam rokok kretek Indonesia. Hal ini tentu dapat mematikan industri rokok dan petani tembakau di dalam negeri.

“Pemerintah diminta tidak meretifikasi FCTC karena dapat membunuh industri tembakau dan petani tembakau di Indonesia. Dan inilah sikap politik PKB yang menentang FCTC ,” tandasya


< HALAMAN MUKA >

 

Copyright @ 2014,  LACAKINDONESIA.COM, All rights reserved