http://www.lacakindonesia.com

 

Gedung DPR/MPR RI Jakarta

 

AM Fatwa: Empat Kali Maju Calon Anggota Parlemen

Lacakindonesia.com, Jakarta, 26 Maret 2014

Liputan: Oktavip Iskandar Hamdi

Keterangan gambar:

Ketua MPR-RI Sidarto Danusubroto, (kiri), Anggota DPD RI dari DKI Jakarta AM Fatwa,(tengah) dan Dosen Fisif UI, Firman Noor dalam Dialog Kenegaraan bertajuk "Ragam Gaya Kampanye Calon Senator" di Gedung DPD/MPR-RI Jakarta, Rabu (26/3/2014.

Anggota DPD RI AM Fatwa mengatakan, meski sudah tiga kali menjadi anggota DPR dan DPD-RI, kini ia kembali mencalonkan dirinya sebagai anggota DPD-RI dari daerah pemilihan DKI Jakarta. Di usianya yang ke79, bersaing dengan calon-calon anggota parelemen generasi baru, karena politik tidak ada pensiunnya.

“Pemilu 2014 ini, yang ke empat kalinya saya mencalonkan diri sebagai calon anggota DPD-RI. Kalau berhasil, saya berusia 80 tahun. Di mana politik, tidak ada pensiunnya. Selain itu, dunia politik merupakan panggilan hati nurani,” ujar AM Fatwa dalam dialog kenegaraan yang bertema “Ragam Gaya Kampanye Calon Senator’ di Gedung DPD/MPR RI Jakarta, Rabu (26/3/2014).

Menurut AM Fatwa, stretegi untuk memenangkan pemilu, tidak bisa meninggalkan gaya lama dan mengabaikan gaya baru. Semua harus disesuaikan dengan komunitas, lingkungan maupun daerah pemilihan. Sementara kalau ingin menjadi politisi, tidak boleh ragu-ragu mengkritik yang salah, dan tak boleh juga marah-marah.

“Saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta, Jokowi, dia tidak marah. Malah mengatakan, kritik itu penting untuk keseimbangan,” katanya.

AM Fatwa menambahkan, dalam berkampanye dirinya tidak pernah menggunakan uang, karena ia berasal dari LP Cipinang dan masuk ke Senayan. Bukan sebaliknya, dari Senayan masuk ke LP Cipinang.

“Masyarakat tahu, ia berasal dari LP Cipinang yang masuk Senayan menjadi politisi. Dan bukan sebaliknya dari Senayan masuk LP Cipinang,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua MPR-RI, Sidarto Danusubroto mengatakan, dengan sistem suara terbanyak pada Pileg 2014 ini menyebabkan caleg pintar tapi berkantong cekak tidak akan lolos ke Senayan. Yang diuntungkan dengan sistem tersebut, hanya caleg-caleg yang berkantong tebal, terutama dari kalangan pengusaha, berpeluang lolos ke Senayan.

"Teman-teman saya yang pintar tapi tidak punya uang banyak, dengan sistem suara terbanyak, tidak lagi menjadi anggota DPR," katanya.

Terkait mengapa dirinya maju sebagai senator dapil DIY, Sidarto menjelaskan, berdasarkan saran Megawati Soekarnoputri agar tidak mundur dari dunia politik. Sementara maju sebagai calon senator tidak mudah, perlu ekstra keras.

“Harus membangun jaringan baru. Sementara ia belum dikenal di Yogyakarta,” jelas Sidarto Danusubroto.


< HALAMAN MUKA >

Copyright @ 2014,  LACAKINDONESIA.COM, All rights reserved