http://www.lacakindonesia.com

 

Ajimbar - Kajati Sumsel

 

Ajimbar, SH, MH, Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan

Lacakindonesia.com, Jakarta, 16 Desember 2013

Liputan: Amroni

Ajimbar - Kajati Sumsel

Hidup harus punya cita-cita yang tinggi. Kalau hidup bukan hanya sekedar hidup, Kalau kerja bukan hanya sekedar kerja, ini merupakan pedoman hidup Ajimbar, SH, MH, Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sumatera Selatan, yang diilhaminya dari filosofi hasil pemikiran Prof Dr Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal sebagai Buya Hamka.

“Kita hidup harus punya khayalan. Khayalan itu harus diwujudkan Untuk mewujudkannya harus memakai panca indera,” tandas pria kelahiran Muara Enim, Sumsel, 27 Juli 1954 ini. Panca indera yang dimaksud adalah mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, tangan untuk memegang, kaki untuk berjalan, otak untuk berfikir yang tentunya diiringi dengan kerja keras dan memiliki kemauan, iklas dan kejujuran.

“Kemauan, keiklasan, dan kejujuran merupakan tiga hal yang perlu diperhatikan dalam bekerja. Kejujuran tanpa kemampuan masih bisa ditolong dengan belajar, namun kalau kemampuan tanpa kejujuran…. bagaimana mengatasinya?“

Dirinya menandaskan, bahwa kemampuan seseorang bisa datang dengan belajar, tapi bila kemampuan tanpa moral dan kejujuran? Pasti hanya melahirkan dosa, hukuman dan biasanya berakhir di tahanan. Visi misi pun sulit untuk diwujudkan. Ajimbar mengakui bahwa selalu punya target dalam setiap kerja yang dilakoninya.

“Kita harus berjuang keras tanpa mengenal batas, membangun Kejaksaan sebagai pejuang penegak hukum yang memihak pada rakyat banyak. Hal yang harus dibenahi baik tentang intern Kejaksaan maupun yang berupa peraturan perundang- undangan.”

Karena keyakinan inilah, Ajimbar selalu mampu menuntaskan semua tugas yang dibebankan padanya sebagai insan Adhyaksa selama 37 tahun lebih.

Berbekal filsafat hidup dan berkeyakinan akan kemauan, keiklasan dan kejujuran, membuat karirnya berjalan mulus selama menjadi abdi Kejaksaan. Tak heran kalau kemudian berbagai pengalaman yang berujung pada keberhasilan senantiasa ‘menemani’ karirnya selama ini.

“Selama kita tawakal dan melakukan pekerjaan yang benar, Insya Allah kita akan senantiasa dilindungi. Karena apa yang kita lakukan ini juga merupakan amanah dari-Nya.”

Seperti kebanyakan jaksa yang lain, menjadi seorang adhyaksa bukan merupakan cita-cita, mungkin karena pekerjaan ini kalah populer dari PNS lainnya. Namun menjalaninya sesuai dengan falsafah hidupnya, mengalir sesuai kehendak Tuhan.

“Jadi menurut saya mungkin memang sudah nasib saya digariskan untuk menjadi seorang penegak hukum, meski bukan cita-cita namun saya bangga dan senang menjalaninya,” ujar bapak tiga anak ini.

Dalam keseharian, pria penyuka golf ini mengaku sangat terbantu oleh kesetiaan istrinya. “Anak-anak terjaga baik dari segi moral, pendidikan dan agama karena istri saya mendidik sebaik-baiknya.”

Karena sang istri pula, ketiga anaknya mampu bertalenta positif bahkan ada yang mengikuti jejaknya sebagai seorang Jaksa. “Anak pertama saya sekarang menjadi jaksa dan ditempatkan di Kejari Jogja. Dan adiknya lulusan Akademi Militer sekarang bertugas di Batalyon 141 Kompi C di Muara Enim wilayah Kodam II Sriwijaya, sementara yang bungsu baru menyelesaikan S-1 FH UII Jogja.”

Mengejar ilmu, tekun dan senantiasa belajar sudah menjadi menu harian Jaksa Tinggi yang saat ini ternyata diam-diam tengah menyelesaikan pendidikan S-3nya di UGM.

Ajimbar juga mencoba menjawab dengan bijak mengenai anggapan menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap jaksa. Menurutnya institusi kejaksaan itu luas, jangan hanya karena ulah segelintir oknum lantas semua jaksa disamaratakan perilakunya.

“Jangan hanya karena tingkah oknum yang tak bertanggungjawab, lantas digebyah uyah semua jaksa sama. Lebih banyak jaksa yang baik dan manusiawi kok. Saya tidak setuju kalau dibilang kredibilitas jaksa turun. Kinerja kita meningkat dari tahun-ketahun.”

Karenanya, Ajimbar begitu sedih manakala korpsnya mendapat hujatan atau tudingan yang kadangkala jauh dari kebenaran. Seperti masalah kasus-kasus kecil yang sampai di pengadilan, kadang institusinya dituding 'tega' memperkarakan rakyat jelata.

Mengenai tekadnya sebagai laskar Adhyaksa, Ajimbar ingin membuktikan kinerja Kejaksaan kepada masyarakat yang sejak dulu rindu akan keadilan.

“Jika hukum telah ditegakkan dengan profesional, maka pembangunan akan berjalan lancar. Kita juga berusaha melakukan tindakan preventif bukan hanya menindak, supaya ke depan para pengelola dana ABBD atau APBN maupun non APBD/N dan mereka mengerti tindakan bagaimana yang melanggar dan tidak melanggar hukum. Harapan kami dengan cara tersebut meski tidak dapat menghilangkan korupsi namun setidaknya dapat mengurangi perilaku kotor yang menambah penderitaan rakyat tersebut.”

Rekam Jejak

Ajimbar memulai karirnya dari bawah, yaitu sebagai CPNS di Kejati Bengkulu tahun 1975 dengan pangkat I/B (Yuana Tama TU).

Tahun 1979 ditempatkan di Kejati DIY selama 13 tahun dan menempuh PPJ tahun 1990. Selepas menyandang predikat jaksa, dirinya sejak tahun 1991 - 1995 ditempatkan di Kejari Jogja.

Dari Jogja dimutasi ke Kupang tahun 1996 sampai pertengahan tahun 1998. Ditahun yang sama tepatnya Agustus 1998, Ajimbar 'pulang ke DIY' menjadi Kasi Pidsus di Kejari Wates.

Empat tahun menjadi Kasi Pidsus, dirinya dipercaya menjadi Kepala Kejaksaan Negeri kali pertama di IDI, Aceh Timur Pebruari 2002. Dan di tahun yang sama pula dimutasi lagi menjadi Kajari Tanjung Balai, Asahan-Medan, Sumatera Utara.

Dari propinsi Sumatera bagian ujung, dirinya dimutasi ke bagian barat tepatnya Nopember 2005 menjadi Asisten Pembinaan di Kejati Sumbar selama 2 tahun 7 bulan dan setelahnya 12 Maret 2008 dimutasi sebagai Kajari Manado.

Genap setahun 4 bulan di Manado, dirinya dipercaya sebagai Asintel Kejati Sumsel dan di tahun 2010 menjadi Wakajati Bengkulu sampai 23 Januari 2011. Bertahan sekitar setahun, sejak 24 Januari sampai September 2012 menjadi Wakajati Jateng. Kemudian dipercaya sebagai Kajati Lampung. Dan sekarang menjabat sebagai Kajati Sumatera Selatan.


< HALAMAN MUKA >

 

Copyright @ 2013,  LACAKINDONESIA.COM, All rights reserved